Pulang ---> Kerengga dalam Perdagangan ---> karangan

Kroto, larva dan pupa semut

Kasus dari Indonesia oleh Nicolas Césard dan Irdez Azhar
Di seluruh Jawa, burung yang dipelihara dalam sangkar mendendangkan nyanyian yang indah, menciptakan suasana kedamaian dan kebahagiaan dalam rumah tangga pemiliknya. Pemeliharaan burung pedendang juga mendatangkan pengakuan status sosial bagi pemiliknya.

Pujian untuk kroto: Makanan burung yang lezat

‘Kroto’ adalah nama yang diberikan oleh orang Jawa untuk campuran larva dan pupa semut penganyam Asia (terutama Oecophylla smaragdina). Campuran ini terkenal di kalangan pencinta burung dan nelayan di Indonesia, karena larva semut populer sebagai umpan ikan, dan juga sebagai makanan tambahan untuk meningkatkan ketrampilan burung-burung pedendang. Para penggemar burung memberi kroto yang kaya protein dan vitamin untuk burung peliharaannya demi kepuasan mereka mendengarkan kicauan burung yang merdu atau waktu mereka menyiapkan burung-burungnya untuk mengikuti lomba burung pedendang.

Semut penganyam dapat ditemukan mulai dari India sampai Australia dan di seluruh kepulauan Indonesia, kisaran habitatnya* luas, termasuk kawasan pesisir, hutan-hutan sekunder* dan perkebunan. Semut ini terkenal sebagai pemangsa yang agresif dan membuat sarang di pepohonan. Semut-semut ini bisa menyerbu hampir semua jenis pohon, tetapi cenderung lebih menyukai pohon buah-buahan, seperti nangka atau mangga. Koloni tertentu mungkin membuat sarang di sebuah pohon atau bahkan beberapa pohon. Ratu semut terdapat di salah satu sarang yang paling tinggi, telur-telurnya tersebar di beberapa tempat koloni lain yang berdekatan. Bentuk sarang semut penganyam paling rumit di antara sarang-sarang semut lainnya, karena spesies Oecophylla menggunakan kelenjar sutera yang sudah berkembang dengan baik di dalam larvanya untuk menganyam dan merekatkan sarang yang terbuat dari dedaunan segar – itulah asal namanya – semut penganyam.

Memanen sarang semut

Kroto dipanen dan dijual sepanjang tahun di pulau Jawa dan Sumatera. Kegiatan memanen kroto dilakukan sendirian, mulai dari identifikasi pohon-pohon inang*. Selama musim kering, sumber sarang kurang melimpah tetapi selama musim hujan, larva yang lebih kecil ‘seperti beras’ lebih banyak, kualitasnya lebih baik dan harganya juga lebih mahal. Karena selama tahun-tahun belakangan ini permintaan dan persaingan untuk memperoleh kroto meningkat, beberapa kawasan dipanen secara berlebihan dan akibatnya larva yang bisa didapatkan oleh para pengumpul juga lebih sedikit. Untuk memenuhi keranjang mereka, giliran untuk memanen pohon inang/induk menjadi jauh lebih pendek, yang akhirnya mempengaruhi kemampuan populasi semut untuk pulih kembali. Pada tingkat pengumpulan sarang yang tidak terlalu intensif, semut umumnya membangun kembali sarangnya dengan cepat.

Sarang-sarang yang terlalu kecil, terlalu tinggi atau sulit dijangkau mungkin dibiarkan saja. Namun, para pengumpul sarang hafal dengan lokasi-lokasi tersebut untuk mencari sarang dikemudian hari, dengan menunggu beberapa minggu semut-semut ini akan pindah ke tempat-tempat yang mudah dijangkau atau membangun sarang-sarang baru.

Karena semut sangat aktif selama siang hari, pengumpulannya cenderung berlangsung pagi-pagi sekali, dan seorang pengumpul mungkin memanen larva dari 6-8 pohon dalam kawasan seluas 1 hektar. Sebuah sarang besar dari dedaunan hidup mungkin mengandung 30-60 gram larva dan selama musim panen (Juli-Agustus), para pengumpul bisa memanen larva hingga 2 kg per orang.

Menjual kroto ke pasar

Pernahkah anda duduk di samping seorang penumpang bis yang memegang sebungkus larva yang sedang menggeliat?

Karena kroto hanya bisa disimpan hidup selama dua hari, para pedagang sering mengirimkan kotak-kotak larva ke kota setiap hari. Karena permintaan yang terus meningkat dan kebutuhan ekonomi, seorang pedagang lokal mungkin menjual 10-30 kg larva per hari ke pasar. Mereka juga menjual kroto yang dikeringkan oleh para pengumpul. Kroto kering ini bisa disimpan selama enam bulan, tetapi harga jualnya hanya setengah harga larva hidup.

Batang bambu yang panjangnya lebih dari 5 m digunakan untuk menusuk dan membongkar sebuah sarang, dan larva yang ada di dalamnya kemudian digoyang-goyang supaya jatuh ke dalam kantong berbentuk kerucut yang tergantung di ujung batang bambu. Pengumpul melakukan pekerjaan ini di beberapa pohon inang dengan hati-hati sekali, supaya tidak disengat semut.

Karena larva hidup cepat sekali membusuk, keharusan untuk segera menjualnya menjadi hambatan paling besar dalam pemasaran kroto. Selama musim panen, para pengumpul mendapat bayaran US$ 1,20-1,40 per kg dari pedagang, yang kemudian menjualnya ke pengecer dengan harga US$ 1,60-1,70 per kg. Keuntungan yang mereka peroleh hanya sedikit setelah dikurangi biaya transportasi. Pasar-pasar burung di Jakarta menjual sekitar 100 kg kroto setiap hari dengan harga US$ 3,50-5,00 per kg; para pengecerlah yang memperoleh keuntungan paling besar dalam perdagangan kroto. Untuk memperoleh penghasilan yang lebih baik, para pengumpul sering menjual hasil panen harian mereka langsung ke pengecer kecil, yang sering mau membayar lebih mahal untuk kroto hidup.

Sekitar 60% dari larva yang dikumpulkan mungkin akan hilang selama transportasi dari lapangan ke rumah atau selama pemilahan. Kroto hidup tidak banyak memerlukan pengolahan, kecuali pembersihan dan pemilahan ukuran saja. Di rumah-rumah pedagang lokal, yang membeli sebagian besar larva yang dipanen, para pengumpul memisahkan semut-semut yang masih ada dan remah-remah larva, kemudian mengemas kroto seberat 1 kg ke dalam sebuah kotak bambu.

Menurut hukum Islam, kroto mungkin dianggap sumber daya yang menjijikkan, sebaiknya tidak dikonsumsi oleh manusia atau binatang, dan uang hasil penjualannya dianggap sebagai ‘uang haram’. Namun, bagi banyak pengumpul, kroto merupakan sumber penghasilan penting dan dianggap sebagai salah satu cara bagi masyarakat miskin untuk memperoleh penghasilan dari sumber daya alam yang gratis. Para pengumpul menggunakan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari (membeli makanan, pakaian, buku sekolah, dll.) atau menabungnya untuk masa-masa sulit. Para petani juga sering mengumpulkan kroto, sebagai cara untuk memperoleh penghasilan tambahan di antara dua musim panen padi.

kembalilah.

Penulis: A. San Juan
Situs persembakan